Pengguna Repeater Ilegal Makin Bengal (Tulisan 11)

Kasus :

Jakarta – Para operator telekomunikasi di Indonesia mengeluh, penggunaan repeater ilegal masih marak. Sementara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kominfo, masih kesulitan untuk memberangusnya.

Menurut Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Muhammad Budi Setiawan, pihaknya telah melakukan penertiban perangkat penguat sinyal ini di daerah-daerah.

“Masih ada sejumlah kendala yang kamihadapi, baik dari internal maupun eksternal,” ujarnya di sela Indonesia Cellular Show 2014, di Jakarta.

Kendala internal sendiri disebut oleh Budi antara lain, belum optimalnya sosialisasi penggunaan perangkat penguat sinyal berdasarkan peraturan yang berlaku dan sulitnya melakukan pengawasan terhadap penjual repeater selular yang dilakukan melalui media elektronik dan internet.

Sementara kendala eksternalnya antara lain semakin banyaknya peredaran perangkat penguat sinyal repeater dari luar negeri sehingga menyulitkan dalam hal pengawasan di lapangan.

Meski demikian, pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan perangkat penguat sinyal yang tertuang dalam UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Dalam aturan itu disebutkan, barang siapa yang melanggar aturan, seperti menggunakan penguat sinyal yang tidak disertifikasi dan tanpa izin, bisa dipidana penjara hingga 6 tahun atau denda Rp 600 juta.

“Operator menggunakan frekuensi yang dialokasikan dengan membayar, sehingga pemerintah harus melindungi, yang mengganggu harus ditertibkan, sehingga tidak sampai mengurangi kualitas layanan telekomunikasi,” kata Budi.

Seperti diketahui, repeater atau penguat sinyal telekomunikasi kian marak dipasang di mana-mana. Walau berguna untuk menguatkan sinyal seluler di suatu area, namun sebagian di antaranya bersifat ilegal, atau tidak memiliki izin. Repeater ilegal tersebut justru malah menimbulkan gangguan.

Telkomsel mencatat, sepanjang tahun 2013 lalu, ada sekitar 121 kasus laporan repeater ilegal, belum termasuk yang tidak dilaporkan. Repeater ilegal tersebut telah mengganggu sekitar 792 menara BTS milik Telkomsel, di seluruh Indonesia. Kasus repeater ilegal ini paling banyak terjadi di wilayah Jabodetabek.

“Satu repeater ilegal bisa mengganggu wilayah sekitar BTS terdekat, dan bisa mengganggu juga BTS-BTS lain milik operator lain,” sesal Vice President ICT Network Management Area Telkomsel Jabotabek- Jabar, M Mustaghfirin.

Dari data yang dimiliki Telkomsel, di tahun 2013 lalu terdapat sekitar 66 repeater ilegal di wilayah Jabotabek. Jumlah BTS yang terganggu mencapai 275 menara.

Di Jakarta sendiri, hingga akhir Mei 2014 lalu, Telkomsel mencatat masih ada sekitar 62 titik area yang masih terganggu gara-gara repeater ilegal.

Sumatera bagian utara menjadi wilayah terbanyak kedua setelah Jabotabek, dengan jumlah 21 repeater ilegal yang mengganggu sekitar 325 menara BTS di wilayah tersebut.

Sementara Jawa Tengah berada di posisi tiga dengan temuan 17 repeater ilegal yang mengganggu 59 BTS Telkomsel.

Gangguan-gangguan terhadap layanan seluler tersebut menurut Telkomsel berupa susah menerima panggilan suara, kualitas suara yang buruk, atau bahkan hingga panggilan yang terputus. Layanan pesan singkat (SMS) juga seringkali gagal mengirim dan menerima.

“Untuk layanan data, gangguan bisa berupa akses data yang susah dan throughput yang rendah,” pungkasnya.

Dikutip dari DetikInet 6 Juni 2014

(http://inet.detik.com/read/2014/06/06/181130/2601837/328/2/pengguna-repeater-ilegal-makin-bengal)

Analisis Saya :

Sebagai pengguna seluler tentunya sangat dibutuhkan yang namanya sinyal, tanpa sinyal ibarat makan sayur tanpa garam.

Sinyal merupakan transmisi komunikasi wireless yang menghubungkan kita sebagai pengguna ponsel dengan BTS sebagai tempat sinyal operator berada. Tentunya akan sangat menyebalkan jika kita sedang penting-pentingya menggunakan ponsel, alhasil sinyal hilang atau naik turun.

Untuk mendapatkan sinyal terbaik ya tentu saja dekat dengan BTS operator berada, akan tetapi dengan adanya Repeater atau penguat sinyal komunikasi maka dengan mudah kita akan mendapatkan sinyal terbaik.

Akan tetapi, semakin hari makin banyak repeater ilegal berada. Yang mengakibatkan terganggunya operasional dari BTS. Seperti sms gagal, telpon tak masuk dan sebagainya.

Untuk itu perlu penanganan khusus kepada BTS misalnya dengan menggunakan teknologi yang bagus untuk mendeteksi agar repeater ilegal agar tidak bisa mengakses BTS tsb. Dengan begini maka repeater ilegal akan menurun dengan sendirinya dan saya harapkan untuk operator untuk meningkatkan kualitas dari BTS agar pengguna nyaman menggunakanya.

Pendapat dari Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika :

“Masih ada sejumlah kendala yang kamihadapi, baik dari internal maupun eksternal,” ujarnya di sela Indonesia Cellular Show 2014, di Jakarta.

“Operator menggunakan frekuensi yang dialokasikan dengan membayar, sehingga pemerintah harus melindungi, yang mengganggu harus ditertibkan, sehingga tidak sampai mengurangi kualitas layanan telekomunikasi,” kata Budi.

Pendapat dari M Mustaghfirin, Vice President ICT Network Management Area Telkomsel Jabotabek- Jabar :

“Satu repeater ilegal bisa mengganggu wilayah sekitar BTS terdekat, dan bisa mengganggu juga BTS-BTS lain milik operator lain,”

“Untuk layanan data, gangguan bisa berupa akses data yang susah dan throughput yang rendah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s